25 September 2008
sayangku pada istri
Sengaja saya tulis di blog ini bahwa sesungguhnya saya sangat mencintai istri saya. Titik
03 September 2008
Sikap Cerdas Dalam Komunitas
Ini sebuah jawaban atas gelisah orang-orang yang saya kenal. Adik-adik yang saat ini berkutat dengan sikap cerdasnya. Saya tuliskan dalam bentuk posting agar berguna pula bagi yang lain yang menghadapi kegelisahan serupa. semoga Bermanfaat.
salah satu kelebihan yang kami (senior angkatan diatas kalian) miliki adalah kami pernah berada pada usia dan masa seperti kalian. Kami pernah dan (mungkin) sering mengalami seperti yang kalian alami.
Merasa tersisih dan tidak dipahami oleh komunitas. Itu biasa, karena orang2 secerdas kalian memang tercipta untuk cerdas dan kritis, kalianlah bagian dari penyeimbang. Tapi...sepanjang saya dan mungkin kawan-kawan saya dulu hadapi, masalah seperti ini membutuhkan ketenangan berpikir dan ketsiqohan pada ketentuan yang sudah diputuskan oleh komunitas. Pernahkah rasulullah marah ketika dalam perdebatan apa yang dipilih dalam perang uhud, bertahan di madinah atau maju menyongsong musuh, yang kemudian menimbulkan kekalahan fisik di perang tersebut? apa sikap rasulullah? Dia menerima, meskipun secara posisi dia lebih tinggi, lebih cerdas dan dia wakil Allah SWT. Beliau, dengan segenap kerendahan hatinya, bersedia mengikuti keputusan itu.
Bahkan, kekalahan perang uhud justru menjadi pembangkit di kemenangan-kemenangan berikutnya. Perang uhud akhirnya menjadi warning atas kebanggan kemenangan di Badar. Menjadi semacam pesan bahwa kemenangan bukan hanya peran kuantitas dan kualitas manusia. Ada peran dari Sang Pencipta Peran. Dan yakinilah bahwa setiap keputusan akan memberikan pembelajaran bagi semua yang berada dalam pusaran keputusan itu. Contoh mudahnya, seorang anak kecil tak akan pernah tahu kalau api itu panas tanpa dia merasakan panas tersebut, atau tak akan pernah tahu rasanya kalau jatuh itu sakit tanpa ia pernah jatuh. Keputusan itu membutuhkan pengalaman meskipun kita telah menggambarkan akibatnya. Ini bagian dari pendewasaan.
Cobalah baca siroh...masih ingatkah kisah tentang penunjukan Utsamah bin Zaid di usianya yang baru 17 tahun untuk menjadi panglima perang? padahal diantara pasukan itu berderet tokoh-tokoh senior seperti Abu Bakar, Umar Bin Khottob, Ali Bin Abi Tholib yang lebih dewasa dan berpengalaman. Dalam membangun komunitas ini yang diperlukan bukan sekedar ketokohan dan kejeniusan personal. Komuitas ini dibangun berdasar peran tim, tiap orang adalah bagian yang tak terpisahkan dari setiap keberhasilan.
Pasti, dalam setiap keputusan ada sisi kelebihan dan tidak menutup terselip juga bagian-bagian kelemahan yang mungkin jauh lebih besar dari keputusan itu. tapi keputusan itu harus tetap diterima dan dijalankan. Ini bagian dari keikhlasan dan totalitas kita bersama komunitas. dan jika ada pernyataan: Ini taklid buta, ini menjerumuskan! Maka jawabnya: akan menjadi taklid buta dan menjerumuskan jika kalian yang mengetahui sisi-sisi kelemahan itu tapi diam dan tidak mengambil peran menutupinya. Apalagi sampai membangun kerumunan sendiri. Mari belajar bertanggungjawab! Wallahu a'lam.
salah satu kelebihan yang kami (senior angkatan diatas kalian) miliki adalah kami pernah berada pada usia dan masa seperti kalian. Kami pernah dan (mungkin) sering mengalami seperti yang kalian alami.
Merasa tersisih dan tidak dipahami oleh komunitas. Itu biasa, karena orang2 secerdas kalian memang tercipta untuk cerdas dan kritis, kalianlah bagian dari penyeimbang. Tapi...sepanjang saya dan mungkin kawan-kawan saya dulu hadapi, masalah seperti ini membutuhkan ketenangan berpikir dan ketsiqohan pada ketentuan yang sudah diputuskan oleh komunitas. Pernahkah rasulullah marah ketika dalam perdebatan apa yang dipilih dalam perang uhud, bertahan di madinah atau maju menyongsong musuh, yang kemudian menimbulkan kekalahan fisik di perang tersebut? apa sikap rasulullah? Dia menerima, meskipun secara posisi dia lebih tinggi, lebih cerdas dan dia wakil Allah SWT. Beliau, dengan segenap kerendahan hatinya, bersedia mengikuti keputusan itu.
Bahkan, kekalahan perang uhud justru menjadi pembangkit di kemenangan-kemenangan berikutnya. Perang uhud akhirnya menjadi warning atas kebanggan kemenangan di Badar. Menjadi semacam pesan bahwa kemenangan bukan hanya peran kuantitas dan kualitas manusia. Ada peran dari Sang Pencipta Peran. Dan yakinilah bahwa setiap keputusan akan memberikan pembelajaran bagi semua yang berada dalam pusaran keputusan itu. Contoh mudahnya, seorang anak kecil tak akan pernah tahu kalau api itu panas tanpa dia merasakan panas tersebut, atau tak akan pernah tahu rasanya kalau jatuh itu sakit tanpa ia pernah jatuh. Keputusan itu membutuhkan pengalaman meskipun kita telah menggambarkan akibatnya. Ini bagian dari pendewasaan.
Cobalah baca siroh...masih ingatkah kisah tentang penunjukan Utsamah bin Zaid di usianya yang baru 17 tahun untuk menjadi panglima perang? padahal diantara pasukan itu berderet tokoh-tokoh senior seperti Abu Bakar, Umar Bin Khottob, Ali Bin Abi Tholib yang lebih dewasa dan berpengalaman. Dalam membangun komunitas ini yang diperlukan bukan sekedar ketokohan dan kejeniusan personal. Komuitas ini dibangun berdasar peran tim, tiap orang adalah bagian yang tak terpisahkan dari setiap keberhasilan.
Pasti, dalam setiap keputusan ada sisi kelebihan dan tidak menutup terselip juga bagian-bagian kelemahan yang mungkin jauh lebih besar dari keputusan itu. tapi keputusan itu harus tetap diterima dan dijalankan. Ini bagian dari keikhlasan dan totalitas kita bersama komunitas. dan jika ada pernyataan: Ini taklid buta, ini menjerumuskan! Maka jawabnya: akan menjadi taklid buta dan menjerumuskan jika kalian yang mengetahui sisi-sisi kelemahan itu tapi diam dan tidak mengambil peran menutupinya. Apalagi sampai membangun kerumunan sendiri. Mari belajar bertanggungjawab! Wallahu a'lam.
25 Agustus 2008
Menuju Ramadhan; "SIAP...!!!"
Ini sebentar lagi puasa. Bukankah moment yang tepat jika sekarang saling memaafkan, agar dalam memasuki ramadhan tak lagi ada prasangka-prasangka di hati. Plong... Maka perkenankan saya meminta maaf jika ada salah pada anda.
14 Agustus 2008
Pemiluwan ato Pemiluwati?
Istri saya akhir-akhir ini sangat sensitif perasaannya. Beberapa kali saya harus berjuang amat keras membujuknya jika dia cemberut. Kadang dia tiba-tiba saja berurai airmata tanpa alasan yang jelas, ato kadang masalah yang biasanya sepele sekarang menjadi sangat luar biasa besarnya. Seperti akhir-akhir ini, saat saya lagi disibukkan dengan tugas-tugas yang membuat saya harus pulang larut tiap malam, eh...dia malah meminta saya untuk antar jemput. Lha, padahal dia praktek di dua klinik. Jam 8 pagi nganter ke klinik A, saya lanjut ke kantor, trus jam 2 siang jemput dan antar pulang, saya balik lagi ke kantor, trus sore jam 5 jemput dia di rumah dan antar ke klinik B, saya balik lagi ke kantor, dan jam 9 malam jemput pulang. Wuih...sayanya nih yang kerepotan. Jarak kantor dengan rumah itu rata-rata 15-20 menit (dengan kecepatan 80-100km/jam). Akhirnya ini berlangsung kurang dari seminggu. Saya menyerah, bukan karena saya tak sayang padanya, saya mencoba mengefisienkan waktu yang saya miliki. Karena selama saya antar jemput, ada beberapa agenda yang sempat tidak efektif dan sempurna.
Tapi ngambeknya masih berlanjut. Sensitifnya tetep tinggi. Dan saya pun mencoba memahami, memang benar kalau orang yang sedang hamil akan mengalami perubahan emosional yang drastis. Istri saya memang sudah sebulan ini hamil. Dan siklus kehidupan rumah tangga kami pun berubah. Semakin cerah dengan binar-binar syukur pada Allah SWT dalam masa penantian 9 bulan.
Ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan pada anda para pengunjung blog ini, tentunya jika anda punya teman atau kenalan seorang dokter, apakah memang jika ada dokter yang hamil itu se heboh istri saya? berhari-hari ini dia lahap buku kedokteraan (yang dulunya bersemayam manis dalam lemari) yang mengupas perihal kehamilan. Dibelinya beberapa suplemen, susu penguat kandungan, perbanyak makan buah dan sayur. Pokoknya heboh abiz, padahal sepertinya dulu emak (ibu) saya tidak seperti itu.
Namun, saya catat satu hal yang ini memang tak ada kaitannya dengan status ke-dokter-an istri saya. Dia (istri saya) tetap saja seorang perempuan, seorang istri. Yang tentunya bagi seorang istri, mengandung merupakan anugerah yang dinanti. Anak adalah investasi masa depan yang kelak dapat mengantarkan orang tua menuju surga. Makanya saya jadi paham mengapa dia sangat menjaga calon bayi kami. Jadi sangat aneh di masa-masa sekarang, betapa banyak ibu yang tak menghendaki kelahiran anaknya. Dibuang, digugurkan, atau sengaja ditelantarkan.
Kalau istri saya disibukkan menjaga calon bayi kami, saya mulai juga dibingungkan dengan nama yang kelak kami berikan. Apa perlu kami memberi nama Pemiluwan atau Pemiluwati? karena perkiraan kami, anak kami, jika lancar, akan lahir setelah heboh pesta demokrasi April 2009 mendatang. Anda punya usul nama?
Tapi ngambeknya masih berlanjut. Sensitifnya tetep tinggi. Dan saya pun mencoba memahami, memang benar kalau orang yang sedang hamil akan mengalami perubahan emosional yang drastis. Istri saya memang sudah sebulan ini hamil. Dan siklus kehidupan rumah tangga kami pun berubah. Semakin cerah dengan binar-binar syukur pada Allah SWT dalam masa penantian 9 bulan.
Ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan pada anda para pengunjung blog ini, tentunya jika anda punya teman atau kenalan seorang dokter, apakah memang jika ada dokter yang hamil itu se heboh istri saya? berhari-hari ini dia lahap buku kedokteraan (yang dulunya bersemayam manis dalam lemari) yang mengupas perihal kehamilan. Dibelinya beberapa suplemen, susu penguat kandungan, perbanyak makan buah dan sayur. Pokoknya heboh abiz, padahal sepertinya dulu emak (ibu) saya tidak seperti itu.
Namun, saya catat satu hal yang ini memang tak ada kaitannya dengan status ke-dokter-an istri saya. Dia (istri saya) tetap saja seorang perempuan, seorang istri. Yang tentunya bagi seorang istri, mengandung merupakan anugerah yang dinanti. Anak adalah investasi masa depan yang kelak dapat mengantarkan orang tua menuju surga. Makanya saya jadi paham mengapa dia sangat menjaga calon bayi kami. Jadi sangat aneh di masa-masa sekarang, betapa banyak ibu yang tak menghendaki kelahiran anaknya. Dibuang, digugurkan, atau sengaja ditelantarkan.
Kalau istri saya disibukkan menjaga calon bayi kami, saya mulai juga dibingungkan dengan nama yang kelak kami berikan. Apa perlu kami memberi nama Pemiluwan atau Pemiluwati? karena perkiraan kami, anak kami, jika lancar, akan lahir setelah heboh pesta demokrasi April 2009 mendatang. Anda punya usul nama?
26 Juli 2008
obrolan (mix)
Bulan ini awal mulai kampanye pemilu 2009. Ribet banget. Aturan-aturan dari KPU yang telat, sering berubah-ubah menunjukkan bahwa KPU Pusat tidak memiliki keseriusan menjalankan tugasnya. Ini tak berlebihan, karena sepertinya anggota-anggota KPU Pusat sebagian tak memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan pemilu. Atau karena terlalu seringnya mereka kunjungan-kunjungan tak berkesudahan?
Terlepas dari itu semua, kawan-kawan saya di kantor ini lebih sibuk daripada biasanya. Semakin banyak orang yang berlama-lama di kantor, rapat, bahkan semakin banyak pula yang muter-muter nggak karuan. Pokoknya sibuknya supersibukbangetdeh... Ini merupakan bagian dari apa yang kawan-kawan saya yakini bahwa semua ini bagian dari kesungguhan memberikan diri dan hidupnya untuk kemuliaan di akhirat sana. Semua jadi sibuk.
Fenomena menuju pemilu 2009 yang lebih seru lagi adalah beramai-ramainya orang men-caleg-kan diri atau di-caleg-kan. Semalam saya berbincang dengan mertua mengenai hal ini. Maklum, mertua saya memang berbeda partai. Kata mertua, "lebih baik orang yang menjadi caleg itu yang sudah mapan sehingga akan sedikit melakukan penyimpangan". Nah lho...emang orang-orang yang sudah mapan secara ekonomi dijamin tak akan melakukan korupsi? Buktinya, justru saat ini para koruptor itu semuanya orang-orang yang banyak duitnya! Saya balas, "Tidak harus seperti itu juga, yang penting moralnya bagus, profesional, dan partainya melakukan kontrol secara ketat saya pikir anggota dewan itu tak akan korupsi"
"Ah...sama saja...PKS juga gitu...mana ada orang yang tahan dengan godaan duit. Tuh yang sekarang jadi wakil ketua DPRD, dia kayak sekarang kan karena dia duduk di DPRD"
"Wah justru beliau sebenarnya rugi kalau dihitung secara materi. Sebelum jadi anggota Dewan, tiap bulan gajinya melebihi gajinya sekarang. Itu hasil jerih payahnya sebelum jadi anggota dewan...bahkan di PKS gajinya juga dipotong sekitar 60%"
"Duh, miskin dong?"
"Itulah PKS, jadi anggota dewan adalah tugas bukan keinginan pribadi. Dan ini bukti keseriusan PKS, kita punya Platform yang setebal ini (sembari menunjukkan buku Platform PKS)"
"Ya lah...ntar kalo papa liat partai papa ini nggak beres, papa pindah ke PKS ajalah..."
"Kenapa nggak sekarang, pa?"
Dan kami pun saling berpandangan disertai senyum-senyum simpul.
Lain lagi cerita saya ketika akan berangkat mukhoyyam (kemping) selama 3 hari. Mertua juga menanyakan ngapain saya harus berangkat, kurang kerjaan, katanya. Tapi dia juga salut. "Lha disuruh berangkat kemping yang nantinya disiksa-siksa panitia aja berangkat, apalagi hanya sekedar ke TPS waktu pemilu yang cuma disuruh nyoblos. Pantesan PKS menang. Kadernya militan, nggak ada tuh dipartai yang lain" katanya.
Itulah sekelumit dialog saya dengan mertua yang tentunya penuh kecanggungan karena kami berbeda partai. Mertua saya ini petualang partai. Di pemilu kemarin merupakan pengurus yang militan di partai berlambang matahari, dan sekarang pindah ke partai yang digagas oleh mantan jenderal yang berlambang kepala burung garuda.
Seperti itu juga bisa terjadi pada anda atau siapapun juga. Perbedaan partai pilihan di dalam keluarga. sah-sah saja untuk berbeda. Namun alangkah baiknya jika perbedaan itu bisa diselesaikan agar keluarga itu memiliki arah gerak (ideologi) yang sama sehingga ketika datang ke TPS bisa bareng-bareng tanpa rasa grundel di dalam hati. Terlebih bagi para aktivis tarbiyah. Perbedaan politik dengan keluarga dapat mengakibatkan permusuhan. Saya punya kawan yang orang tuanya pendukung fanatik partai penguasa di jaman orde baru, begitu tahu kalau sang anak ikut partai berlambang bulan sabit kembar mengapit sebatang padi, langsung mencak-mencak. Si anak bahkan diancam untuk tidak keluar rumah, tidak boleh kuliah, dan bergaul dengan kami. Heboh bukan?!
Semua ini bisa terjadi karena orang tua tidak memahami pilihan anaknya. Ada beberapa catatan yang saya buat untuk masing-masing (orang tua dan anak)
Untuk orang tua:
Pahamilah bahwa pilihan anak kadang lebih baik dari anda sebagai orang tua. Latar pendidikan yang tinggi dan arus informasi yang terbuka luas telah menjadi bagian terpenting faktor objektifitas pilihan mereka. Akui sajalah, bahwa kecerdasan anak-anak anda telah melebihi kecerdasan anda. Mereka kadang suka protes sebagai wujud ketidakterimaan mereka terhadap doktrin-doktrin yang anda tanamkan. Bukankah itu baik jika berkaitan dengan sesuatu yang positif? Dan terakhir, cobalah lihat setiap pilihan politik mereka secara objektif. Anda mungkin lebih banyak punya pengalaman, tapi mereka lebih tahu dunia sekarang.
Untuk anak:
Sebaiknya jika kalian berbicara dengan orang tua maka jangan terlalu menggurui, bernada tinggi, apalagi sampai beradu fisik. Jika memang tidak sepakat dengan orang tua, maka jangan hanya membantah dengan kata-kata tapi wujudkan dalam sebuah prestasi. Toh sebenarnya orang tua selalu menginginkan yang baik dan terbaik bagi kalian. Terlebih jika itu menyangkut pilihan partai politik. Tunjukkan bahwa partai pilihan kalian itu memang baik dan berisi rang-orang baik. Bukan partai geblek yang dipenuhi orang-orang culas seperti srigala berbulu domba. Hari ini bilang sebagai partainya wong cilik, begitu jadi anggota dewan maka berubah jadi partai wong licik. Dan terakhir, pilihlah partai itu berdasarkan data-data, misalnya: apakah anggota dewan dari partai itu ada yang melakukan korupsi? atau data-data lainnya. Itu untuk menunjang keobjektifan pilihan kalian, sehingga ketika ditanya orang tua, kalian bisa memberikan jawaban yang cerdas.
Terlepas dari itu semua, kawan-kawan saya di kantor ini lebih sibuk daripada biasanya. Semakin banyak orang yang berlama-lama di kantor, rapat, bahkan semakin banyak pula yang muter-muter nggak karuan. Pokoknya sibuknya supersibukbangetdeh... Ini merupakan bagian dari apa yang kawan-kawan saya yakini bahwa semua ini bagian dari kesungguhan memberikan diri dan hidupnya untuk kemuliaan di akhirat sana. Semua jadi sibuk.
Fenomena menuju pemilu 2009 yang lebih seru lagi adalah beramai-ramainya orang men-caleg-kan diri atau di-caleg-kan. Semalam saya berbincang dengan mertua mengenai hal ini. Maklum, mertua saya memang berbeda partai. Kata mertua, "lebih baik orang yang menjadi caleg itu yang sudah mapan sehingga akan sedikit melakukan penyimpangan". Nah lho...emang orang-orang yang sudah mapan secara ekonomi dijamin tak akan melakukan korupsi? Buktinya, justru saat ini para koruptor itu semuanya orang-orang yang banyak duitnya! Saya balas, "Tidak harus seperti itu juga, yang penting moralnya bagus, profesional, dan partainya melakukan kontrol secara ketat saya pikir anggota dewan itu tak akan korupsi"
"Ah...sama saja...PKS juga gitu...mana ada orang yang tahan dengan godaan duit. Tuh yang sekarang jadi wakil ketua DPRD, dia kayak sekarang kan karena dia duduk di DPRD"
"Wah justru beliau sebenarnya rugi kalau dihitung secara materi. Sebelum jadi anggota Dewan, tiap bulan gajinya melebihi gajinya sekarang. Itu hasil jerih payahnya sebelum jadi anggota dewan...bahkan di PKS gajinya juga dipotong sekitar 60%"
"Duh, miskin dong?"
"Itulah PKS, jadi anggota dewan adalah tugas bukan keinginan pribadi. Dan ini bukti keseriusan PKS, kita punya Platform yang setebal ini (sembari menunjukkan buku Platform PKS)"
"Ya lah...ntar kalo papa liat partai papa ini nggak beres, papa pindah ke PKS ajalah..."
"Kenapa nggak sekarang, pa?"
Dan kami pun saling berpandangan disertai senyum-senyum simpul.
Lain lagi cerita saya ketika akan berangkat mukhoyyam (kemping) selama 3 hari. Mertua juga menanyakan ngapain saya harus berangkat, kurang kerjaan, katanya. Tapi dia juga salut. "Lha disuruh berangkat kemping yang nantinya disiksa-siksa panitia aja berangkat, apalagi hanya sekedar ke TPS waktu pemilu yang cuma disuruh nyoblos. Pantesan PKS menang. Kadernya militan, nggak ada tuh dipartai yang lain" katanya.
Itulah sekelumit dialog saya dengan mertua yang tentunya penuh kecanggungan karena kami berbeda partai. Mertua saya ini petualang partai. Di pemilu kemarin merupakan pengurus yang militan di partai berlambang matahari, dan sekarang pindah ke partai yang digagas oleh mantan jenderal yang berlambang kepala burung garuda.
Seperti itu juga bisa terjadi pada anda atau siapapun juga. Perbedaan partai pilihan di dalam keluarga. sah-sah saja untuk berbeda. Namun alangkah baiknya jika perbedaan itu bisa diselesaikan agar keluarga itu memiliki arah gerak (ideologi) yang sama sehingga ketika datang ke TPS bisa bareng-bareng tanpa rasa grundel di dalam hati. Terlebih bagi para aktivis tarbiyah. Perbedaan politik dengan keluarga dapat mengakibatkan permusuhan. Saya punya kawan yang orang tuanya pendukung fanatik partai penguasa di jaman orde baru, begitu tahu kalau sang anak ikut partai berlambang bulan sabit kembar mengapit sebatang padi, langsung mencak-mencak. Si anak bahkan diancam untuk tidak keluar rumah, tidak boleh kuliah, dan bergaul dengan kami. Heboh bukan?!
Semua ini bisa terjadi karena orang tua tidak memahami pilihan anaknya. Ada beberapa catatan yang saya buat untuk masing-masing (orang tua dan anak)
Untuk orang tua:
Pahamilah bahwa pilihan anak kadang lebih baik dari anda sebagai orang tua. Latar pendidikan yang tinggi dan arus informasi yang terbuka luas telah menjadi bagian terpenting faktor objektifitas pilihan mereka. Akui sajalah, bahwa kecerdasan anak-anak anda telah melebihi kecerdasan anda. Mereka kadang suka protes sebagai wujud ketidakterimaan mereka terhadap doktrin-doktrin yang anda tanamkan. Bukankah itu baik jika berkaitan dengan sesuatu yang positif? Dan terakhir, cobalah lihat setiap pilihan politik mereka secara objektif. Anda mungkin lebih banyak punya pengalaman, tapi mereka lebih tahu dunia sekarang.
Untuk anak:
Sebaiknya jika kalian berbicara dengan orang tua maka jangan terlalu menggurui, bernada tinggi, apalagi sampai beradu fisik. Jika memang tidak sepakat dengan orang tua, maka jangan hanya membantah dengan kata-kata tapi wujudkan dalam sebuah prestasi. Toh sebenarnya orang tua selalu menginginkan yang baik dan terbaik bagi kalian. Terlebih jika itu menyangkut pilihan partai politik. Tunjukkan bahwa partai pilihan kalian itu memang baik dan berisi rang-orang baik. Bukan partai geblek yang dipenuhi orang-orang culas seperti srigala berbulu domba. Hari ini bilang sebagai partainya wong cilik, begitu jadi anggota dewan maka berubah jadi partai wong licik. Dan terakhir, pilihlah partai itu berdasarkan data-data, misalnya: apakah anggota dewan dari partai itu ada yang melakukan korupsi? atau data-data lainnya. Itu untuk menunjang keobjektifan pilihan kalian, sehingga ketika ditanya orang tua, kalian bisa memberikan jawaban yang cerdas.
24 Juli 2008
untuk anda yang suka yang pasti-pasti aja!
29 Juni 2008
maaf...
Pada seorang kawan yang dah lama tak terhubung setelah diri ini berdua. Maafkan diriku... Kau tetap kawanku, selamanya...
Langganan:
Postingan (Atom)
